SEMARANG — Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan sistem peringatan dini, teknologi, dan respons pemerintah. Kekuatan masyarakat di tingkat lokal, termasuk pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi modal penting untuk membangun komunitas yang tangguh menghadapi bencana.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Kebangsaan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI: Penguatan Kesiapsiagaan Berbasis Pengetahuan Lokal yang digelar Skala Indonesia bersama MPR RI dan BNPB, berkolaborasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah, Jumat (27/2/2026), di Kantor BPBD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang.
Mengangkat tema “Local Champion sebagai Garda Terdepan Ketangguhan Komunitas”, kegiatan ini mempertemukan pemerintah, relawan, komunitas, dan pegiat kebencanaan untuk membahas bagaimana pengetahuan lokal dapat diperkuat menjadi bagian dari strategi kesiapsiagaan bencana.

Kegiatan tersebut menghadirkan Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, sebagai pemberi sambutan kunci. Diskusi juga menghadirkan Pangarso Suryotomo, Plt. Deputi Bidang Kesiapsiagaan BNPB, dan Trinirmalaningrum, Direktur Skala Indonesia, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Abdurahman Heriza, Kepala Divisi Riset Skala Indonesia.
Ancaman Bencana Semakin Kompleks
Indonesia menghadapi ancaman bencana yang berulang dan semakin kompleks. Sepanjang 2025 terjadi lebih dari 2.942 kejadian bencana di berbagai provinsi, dengan sekitar 70 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan badai tropis.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak sebelum bencana terjadi. Kesiapsiagaan perlu dibangun mulai dari tingkat keluarga, komunitas, hingga lingkungan pemerintahan lokal.
Jawa Tengah, dengan karakter wilayah dan keragaman masyarakatnya, juga membutuhkan pendekatan kesiapsiagaan yang tidak hanya bertumpu pada sistem formal, tetapi mampu mengintegrasikan pengalaman dan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Kearifan Lokal Jadi Modal Ketangguhan
Di tengah berbagai ancaman tersebut, masyarakat Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang berkembang dari pengalaman menghadapi lingkungan dan bencana.
Pengetahuan tersebut dapat berupa sistem peringatan tradisional, pola adaptasi terhadap lingkungan, maupun praktik gotong royong ketika menghadapi situasi darurat. Namun, pengetahuan lokal tersebut belum seluruhnya terdokumentasi dan terintegrasi secara optimal dengan sistem kesiapsiagaan modern.
Karena itu, dialog kebangsaan ini mendorong agar kearifan lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber strategi dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Local Champion Jadi Penghubung
Salah satu aktor penting yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah local champion. Mereka dapat berasal dari tokoh masyarakat, kader desa, relawan, maupun pegiat komunitas yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.
Local champion memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pengetahuan lokal dengan pendekatan kebencanaan yang lebih sistematis. Mereka dapat membantu mengidentifikasi risiko di wilayahnya, menyampaikan informasi, membangun komunikasi risiko, sekaligus menggerakkan masyarakat untuk melakukan tindakan kesiapsiagaan.
Penguatan kapasitas local champion diharapkan dapat mendorong lahirnya lebih banyak penggerak masyarakat yang mampu membangun budaya kesiapsiagaan dari tingkat paling dekat dengan warga.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Sosial
Penguatan kesiapsiagaan berbasis komunitas juga memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Nilai gotong royong, solidaritas, persatuan, dan partisipasi kolektif menjadi modal sosial yang penting ketika masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Dalam konteks ini, kesiapsiagaan bukan semata-mata persoalan teknis. Ia juga merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan sosial dan kemampuan masyarakat untuk saling membantu ketika menghadapi situasi krisis.
Membangun Ketangguhan Melalui Kolaborasi
Dialog Kebangsaan tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, komunitas, dan media memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ketangguhan masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, pengetahuan lokal dapat diidentifikasi dan didokumentasikan, kemudian dikembangkan menjadi bagian dari perencanaan kesiapsiagaan yang lebih terstruktur.
Kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan sejumlah keluaran, antara lain peta pengetahuan lokal terkait kesiapsiagaan bencana, rencana aksi kesiapsiagaan berbasis komunitas, peningkatan kapasitas local champion, serta dokumentasi praktik baik.
Lebih jauh, pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk komunitas yang lebih tangguh, meningkatkan peran local champion sebagai agen perubahan, mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam strategi kesiapsiagaan, serta memperkuat solidaritas sosial berbasis nilai kebangsaan.

Dari Warga untuk Ketangguhan Bersama
Pada akhirnya, membangun ketangguhan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Ketangguhan lahir ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kapasitas, jaringan, dan ruang untuk mengambil peran dalam menghadapi risiko di wilayahnya.
Melalui penguatan local champion, pengetahuan lokal dan nilai gotong royong diharapkan dapat menjadi kekuatan yang memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Jawa Tengah.
Sebab, masyarakat yang tangguh bukan hanya masyarakat yang mampu bertahan ketika bencana datang, tetapi masyarakat yang mampu mengenali risikonya, mempersiapkan diri, saling menguatkan, dan bangkit bersama.






