Berbagi Pengetahuan Mengenai Bencana di Aceh Tengah

Perjalanan panjang ditempuh oleh enam pemuda dari Jakarta hingga Aceh. Tawa canda hingga panik saat pesawat hendak mendarat tetapi dihantam cuaca buruk, terpaksa harus berputar-putar dahulu sebelum pada akhirnya mendarat dengan aman di bandar udara Malikussaleh, Lhokseumawe. Perjalanan sekitar lima jam harus mereka habiskan untuk sampai di wilayah Takengon, Aceh Tengah. Di tanah Gayo inilah misi para pemuda untuk berbagi pengetahuan mengenai bencana dijalankan.

Kabut tebal membuat jarak pandang berkendara menjadi begitu sempit pada Rabu, 1 Maret 2023. Enam pemuda ini bertemu dengan berbagai pihak dari mulai Badan Penanggulangan Bencana Aceh Tengah (BPBA), Kelurahan Ketol, Kelurahan Kute Panang, Perangkat Desa Bah, Desa Serempah di Kec. Ketol dan juga Desa Kute Panang di Kec. Kute Panang. Hal ini mereka lakukan untuk audiensi mengenai program “Develop Community Led on Disaster Risk Management”. Program ini merupakan inisiasi Yayasan Skala Indonesia yang didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk.

Keesokan harinya pada Kamis 2 Maret 2023, cuaca berpihak kepada enam orang pemuda itu, sehingga perjalanan terasa lebih menyenangkan. Ditemani sinar jingga matahari terbit di balik deretan bukit antara Kota Takengon dan Kecamatan Ketol membuat perjalanan begitu hangat. Desa Bah, Kec. Ketol menjadi desa pertama dilaksanakannya Fokus Grup Diskusi (FGD) mengenai bencana, yang merupakan rangkaian awal dari program ini. Dalam hikmat warga bercerita mengenai pengalaman menghadapi bencana gempa pada 2 Juli 2013.

Gambar 1. Sisa bangunan yang tidak ditempati akibat longsor sesaat setelah gempa di wilayah Desa Bah sebelum relokasi, Sumber: disasterchannel.co/LS
Gambar 2. Tebing bekas longsor sesaat setelah gempa 2013 di Desa Bah, Sumber: disasterchannel.co

Gempa begitu dahsyat dirasakan oleh warga Desa Bah. Bahkan mereka harus direlokasi karena longsor terjadi sesaat setelah gempa. Sampai sekarang, kita bisa melihat dengan jelas bekas dari gerakan bidang tanah yang longsor kala itu di desa ini. kejadian gempa itu begitu membekas, bila mengingatnya beberapa perempuan pun tanpa sadar meneteskan air mata.

Hujan deras sempat menghambat pergerakan pagi kami pada Jumat, 3 Maret 2023. Untungnya, semakin naik matahari dari timur, semakin reda pula hujannya. Ditemani gerimis tipis, enam pemuda ini bertolak menuju Desa Serempah di Kec. Ketol. Dalam FGD yang dilakukan, tertuang berbagai kisah menarik dari kejadian gempa tahun 2013. Desa Serempah adalah salah satu desa terparah dengan korban terbanyak yang terdampak gempa pada kala itu. Dampak keseluruhan dari gempa ini menyebabkan 39 orang meninggal, lebih dari 400 orang luka. 

Sama seperti Desa Bah, Desa Serempah juga beberapa kali mengalami relokasi pasca gempa terjadi. Sesaat setelah gempa terjadi, warga Desa Serempah yang terdampak mengungsi di Desa Kute Gelime. Kemudian beberapa bulan setelahnya, warga desa ini kembali berpindah ke samping Desa Bah Bernama kampung Kute Alam yang merupakan bagian administratif dari Desa Serempah. Karena alasan ekonomi berupa jarak yang cukup jauh antara ladang dan tempat tinggal membuat seluruh warga Serempah sepakat untuk kembali berpindah dan mengisi wilayah yang mereka tinggali sampai sekarang.

Gambar 3. Proses pembuatan peta ancaman bencana dan jalur evakuasi secara partisipatif di Desa Serempah pada 3 Maret 2023, Sumber: disasterchannel.co/LS

Foto Bersama sekaligus makan siang menjadi salam perpisahan penuh keceriaan bagi warga Desa Serempah dan enam pemuda ini. perjalanan belum selesai, mereka harus melanjutkan pelaksanaan FGD ke Desa Kute Panang di Kec. Kute Panang.

Siang yang begitu dingin menyejukkan enam pemuda yang berbaur hangat dalam fokus grup diskusi. Semangat ibu-ibu tak bisa dibendung dalam forum ini, semua begitu riuh menyampaikan pengelamannya dalam menghadapi gempa sepuluh tahun lalu.

Gambar 4. Potret saat kabut tipis dan gerimis di Desa Kute Panang pada 2 Maret 2023, Sumber: disasterchannel.co/LS

Sama seperti dua desa sebelumnya, Desa Kute Panang juga adalah desa yang terdampak parah gempa saat itu. Hampir semua rumah di daerah ini rusak akibat guncangan gempa. Beberapa warga memindahkan rumah sebelumnya ke lahan yang lebih landau di area perkebunan kopi warga. Selain gempa, daerah ini juga kerap mengalami longsor karena lahannya yang sangat curam. Angin puting beliung juga sempat menerbangkan beberapa atap rumah milik warga.

Gambar 5. Proses pembuatan peta ancaman bencana dan jalur evakuasi secara partisipatif di Desa Kute Panang, Sumber: disasterchannel.co

Pembuatan peta ancaman bencana secara partisipatif dan juga pembuatan peta jalur evakuasi menjadi karya kolaboratif warga. Untuk memecah kebosanan dan menghidupkan suasana dingin, beberapa peserta yang aktif diberikan hadiah. Canda tawa dalam keseriusan diskusi berbaur menjadi satu kesatuan yang padu. Awan, barisan bukit dan udara dingin menjadi latar perpisahan enam pemuda dan warga dalam sebuah bingkai foto bersama.

Gambar 6. Foto bersama peserta Fokus Grup Diskusi (FGD) di Desa Kute Panang, Sumber: disasterchannel.co

Mendengar banyak cerita pengalaman menghadapi bencana membuat pemuda ini berpikir lebih dalam untuk menyusun sebuah strategi peningkatan kapasitas warga. Enam pemuda ini kembali berkutat mencari jalan keluar dengan pikirannya untuk berbagi pengetahuan pada sesi selanjutnya. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*