Tips Mengembangkan Youtube Channel Kebencanaan Untuk Dapat Cuan

YouTube menjadi salah satu platform yang memberikan kita kepuasan tersendiri untuk mencari berbagai macam hal yang kita butuhkan. Mencari hiburan, hobby baru atau belajar, sekarang bisa kita dapatkan dengan menonton video di YouTube. Semakin lama YouTube semakin berkembang, hingga banyak sekali penggunanya, termasuk di dalamnya masyarakat Indonesia.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa berkarya di YouTube dapat menjadi salah satu modal hidup. Sebab melalui YouTube kita dapat menghasilkan banyak cuan dengan berbagai macam cara. Disasterchannel.co ingin sekali mengembangkan channel youtube mengenai kebencanaan menjadi salah satu yang dapat bersaing di mata penikmat youtube, sekaligus memperluas paparan edukasi bencana kepada masyarakat luas melalui platform ini. 

Cita-cita edukasi bencana dapat menjadi konsumsi kebanyakan public, maka Skala Indonesia dan disasterchannel.co melakukan sebuah workshop bertema “Edukasi Bencana Sekaligus Meraih Keuntungan Dengan Memanfaatkan YouTube Channel” di Hotel Swiss-Belresidences, Kalibata, Jakarta pada Rabu 21/06/2023. 

Kali ini kami belajar banyak dari Luthfi Achmad yang merupakan Founder & Mentor Suksesdariyoutube.com. Luthfi telah banyak memiliki pengalaman di bidang pengembangan channel YouTube salah satunya menjadi Mentor di Digitalent Scholarship by KOMINFO 2021 dan Mentor di Youtube Revolution Class by Effion Creator School 2022. 

Mengenakan pakaian serba hitam dengan latar ruang coklat susu, Luthfi memulai workshop dengan pertanyaan “Menurut kamu apa tugas utama dari content creator?”. Peserta banyak yang menjawab dengan berbagai macam jawaban menarik sekaligus lucu, seperti membuat content, upload video, edit video dan lainnya.

Kemudian pemuda lulusan Marketing et Commerce di Universite De La Reunion, Paris, Prancis ini kemudian menjelaskan bahwa content creator di berbagai platform social media itu memiliki dua tipe, di antaranya adalah sifat negative dan positif. Kita harus memilih akan menjadi konten kreator yang bersifat positif atau negative sesuai dengan alasan kita menjadi seorang content creator. Dalam ruang workshop semua ingin menjadi seorang content creator yang positif yang bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Pertanyaan kembali muncul dari mulut Luthfi, dia bertanya “mengapa kita harus membuat konten di platform YouTube?”

Pertanyaan inilah yang menjadi alasan utama workshop ini dilakukan, sebab youtube dapat memberikan kita keuntungan. Pemuda ini kembali menjelaskan bahwa penghasilan yang diperoleh dari youtube lebih besar nilainya bila dibandingkan dengan Tik-tok dan Instagram atau lainnya. Sebab di YouTube, dengan jumlah viewers dan jam tayang tertentu kita sudah dapat bayaran. Sementara di platform lainnya yang sudah memiliki viewers banyak, namun belum tentu mendapat uang. Selain itu, YouTube adalah salah satu platform yang paling banyak digunakan serta banyak endorse dan iklan yang bisa menghasilkan cuan bagi kita. 

Luthfi membagikan beberapa tips dan trik bagaimana cara mendapatkan cuan dari YouTube yang bisa kita terapkan, di antaranya sebagai berikut:

  • Memanfaatkan YouTube untuk meraih keuntungan harus kita mulai dengan menentukan alasan awal menjadi konten creator. Dan pilih sifat konten yang positif atau negatif kemudian pilih content edukasi ataupun hanya entertainment. 
  • Konten edukatif selalu dapat dicari kapanpun (evergreen). Entertainment hanya sebentar sekali naik tapi tidak bertahan lama. Konten yang dibangun dari permasalahan orang banyak adalah konten pamungkas. 
  • Ide konten dapat berasal dari hobi, pekerjaan ataupun skill. Kita harus mengetahui target audience yang melihat konten tersebut, mulai dari aspek umur, jenis kelamin, masalah, keinginan dan bagaimana jika keinginan mereka tidak tercapai.
  • Konsistensi konten (teori 40 video/ untuk konten edukatif) agar YouTube mengenali spesifikasi channel kita, siapkan mental jangan mudah menyerah!
  • Ketahui kelebihan dan kekurangan menampilkan wajah dalam konten. Untuk memunculkan wajah akan mudah terkenal dapet endorse dan punya personal branding. Tanpa wajah lebih sulit mendapat penghasilan (dari adsense saja)
  • Perhatikan fair use dan creative common dan analisis channel, perbaiki dengan Search Engine Optimization (SEO) dan Meta Data pada aspek  judul, deskripsi, tag.

Terakhir Luthfi berpesan bahwa membangun channel YouTube adalah sebuah tantangan yang cukup berat bagi pemula. Sebab penghasilan dari YouTube tidaklah instant, semua butuh proses panjang yang tidak mudah pada setiap awalnya. Kita harus menerapkan “Give first, receive later untuk berkarya di YouTube” agar tidak mudah putus asa dan konsisten dalam mengembangkannya. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*