Skala Indonesia Didukung Mandala Menyelenggarakan Giat Pengurangan Risiko Bencana Di Donggala

Wilayah Donggala mendadak menjadi terkenal karena gempa yang terjadi pada 5 tahun lalu. Di wilayah inilah pusat gempabumi 7,4 SR berada, dengan energi yang mampu merobohkan banyak bangunan yang tak sanggup lagi menahan kekuatan gempa itu. Ribuan nyawa pun tak luput menjadi korban karena berbagai macam faktor kerentanan.

Jauh sebelum gempa pada 28 September 2018, wilayah Donggala sudah sering mengalami gempa, hanya saja kita tidak menaruh perhatian terhadapnya. Selama 100 tahun kebelakang, tercatat terjadi empat kali gempa yang menyebabkan tsunami yaitu pada tahun 1927 (Mw=6,1) tahun 1968 (Mw=7,4) tahun 1996 (Mw=7,7) dan tahun 2018 (Mw=7,4), tiga di antaranya berada di wilayah Pantai Barat Donggala.

Banyaknya catatan sejarah gempa merusak disertai tsunami yang ada di wilayah Pantai Barat Donggala menjadi sebuah landasan bagi Yayasan Skala Indonesia untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu menanggulangi bencana dengan lebih mandiri. Melalui program “Develop Community Led on Disaster Risk Management”Yayasan Skala Indonesia didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk, berusaha membentuk kepemimpinan lokal yang memiliki kemampuan dalam upaya pengurangan risiko bencana di wilayahnya.

Gambar 1. Tim Skala Indonesia melakukan audiensi dan proses perizinan penyelenggaraan program Develop Community Led on Disaster Risk Management” di Kec. Sojol. Sumber: disasterchannel.co

Bertolak dari Jakarta pada Senin dini hari (8/05/2023), kemudian kami bergegas melakukan audiensi kepada BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan juga BPBD Kab. Donggala. Setelah melalui proses diskusi yang panjang, tim Yayasan Skala Indonesia memutuskan untuk melakukan intervensi program di wilayah Kec. Dampelas dan Juga Sojol. Dua kecamatan ini pernah dilanda gempa merusak disertai tsunami pada tahun 1968 dan 1996. Wilayah yang dipilih adalah Desa Sioyong, Kecamatan Dampelas, Desa Balukang dan Desa Tonggolobibi, di Kecamatan Sojol.

Gambar 2. Warga Desa Tonggolobibi sedang melakukan pembuatan peta ancaman bencana secara partisipatif, Sumber: disasterchannel.co

Seperti menjelajahi sesar Palu-Koro, tim melakukan perjalanannya dari Kota Palu menuju Kec. Dampelas dan juga Sojol untuk melakukan audiensi dan juga memohon perizinan pengadaan kegiatan. Berkendara selama lima setengah jam sambil menikmati pantai barat Donggala dengan air jernih berwarna biru layaknya batu safir membuat perjalanan terasa begitu menakjubkan. 

Tak kurang lima hari kami habiskan untuk melakukan proses perizinan kepada pemangku kepentingan daerah mulai dari tingkat kecamatan hingga desa. Beruntung, semua pihak mendukung kegiatan kami, karena banyak di antara mereka yang sadar bahwa kejadian gempa bisa berulang di masa depan.

Selama dua hari di setiap desa, kami melakukan kajian kerentanan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Kajian ini digunakan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, kemampuan dan fasilitas yang dimiliki warga dalam upaya penanggulangan bencana. Setelah itu, kami melakukan fokus grup diskusi untuk membuat rencana kontigensi mengenai gempabumi dan juga tsunami disertai pula dengan table top exercise atau latihan di atas meja mengenai rencana kontigensi yang telah disepakati. Fokus grup diskusi dijalankan di Desa Sioyong pada 12-13 Mei 2023, sementara untuk di Desa Balukang, Kec. Sojol dilakukan pada 18-19 Mei 2023 dan terakhir di Desa Tonggolobibi dilakukan pada 23-24 Mei 2023. Semua rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan dipenuhi oleh diskusi yang menarik dan juga informatif. Warga begitu antusias menyimak, berpendapat dan berbagi informasi mengenai pengalaman bencana yang dialaminya.

Gambar 3. Pelaksanaan table to exercise di Desa Tonggolobibi, Sumber: disasterchannel.co
Gambar 4. Foto bersama peserta FGD dan table top exercise di Desa Balukang, Kec. Sojol Sumber: disasterchannel.co
Gambar 5. Foto bersama peserta FGD dan table top exercise di Desa Sioyong, Kec. Dampelas Sumber: disasterchannel.co

Pengalaman menghadapi bencana pada masa lalu memiliki pengaruh besar pada pikiran dan juga pendapat warga dalam menentukan keputusan. Masyarakat Pantai Barat Donggala memiliki pengalaman berharga mengenai penanggulangan bencana dari masa ke masa. Hal ini dapat menjadi modal besar dalam meningkatkan kapasitas warga untuk mengurangi risiko bencana. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*