Mengurangi Risiko Bencana Bencana Berbasis Komunitas Di Desa Kute Panang

Kiri-kanan jalan terlihat jajaran pohon kopi, suasana begitu dingin dan sesekali dikelilingi kabut, inilah potret keadaan di Desa Kute Panang, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Daerah ini memiliki pemandangan indah yang berdiri di ketinggian di atas 1000 mdpl. Sepuluh tahun yang lalu, desa ini dilanda guncangan gempa besar yang merusak hamper seluruh rumah yang ada di desa ini.

Ancaman gempa begitu besar, sehingga perlu ada peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mengurangi risiko bencana. Yayasan Skala Indonesia menginisiasi program “Develop Community Led on Disaster Risk Management”, kemudian didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk. Program ini dijalankan dengan harapan warga dapat lebih mandiri dalam menanggulangi bencana. 

Program ini dimulai dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada Jumat, 3 Maret 2023. Gempa sepuluh tahun lalu begitu berbekas bagi warga di Tanah Gayo. Dalam diskusi, beberapa warga menyampaikan ingatan kolektifnya mengenai gempa besar yang mereka alami di tahun 2013. Salah satunya adalah Siti Sarah, ia menceritakan kejadian gempa sepuluh tahun lalu.

“Kejadian terjadi pukul setengah 3 siang, rencana kami mengungsi ke Pantan Silih. Ibu saya yang sudah almarhum digendong oleh suami saya yang dibawa melewati hutan kopi. Sebagian rumah habis rata dan tak bersisa masuk ke dalam jurang” kata Sarah.

Selanjutnya, Sistia Araini seorang mahasiswa asal Kute Panang bercerita mengenai pengalamannya ketika gempa terjadi. Sepuluh tahun lalu, Sistia masih duduk di bangku sekolah dasar. 

“Saya ingat kejadian tanggal 2 juli 2013, pukul stngh 3. Ketika kejadian gempa warga berhamburan dan beberapa rumah hancur. Setelah gempa, banyak warga mengungsi ke rumah saudara-saudara dan ke kampung tetangga” ujar Sistia. 

Sistia melanjutkan ceritanya dan mengatakan bahwa beberapa hari kemudian warga kembali ke Desa Kute Panang dan mendirikan 3 posko pengungsian dan kemudian memulai datang berbagai macam bantuan. Bahkan, bekas rumah yang dahulu dijadikan tempat pengungsian masih tersisa sampai saat ini.

Banyak ingatan kolektif mengenai gempa sudah samar diingat oleh masyarakat. Mereka jarang sekali mengalami gempa, bahkan lebih sering mengalami angin puting beliung dan kerap mengalami longsor karena lahannya yang sangat curam. Pengalaman menghadapi bencana ternyata belum menyadarkan masyarakat secara penuh bahwa wilayahnya memiliki ancaman bencana gempa yang tinggi.

Gambar 1. Potret saat kabut tipis dan gerimis di Desa Kute Panang pada 2 Maret 2023, Sumber: disasterchannel.co

Setelah diskusi selesai, warga bersama-sama membuat peta ancaman bencana dan juga peta jalur evakuasi secara partisipatif. Beberapa perwakilan pemuda menjadi sukarelawan untuk membuat peta desa, kemudian semua peserta bermuasyawarah menentukan daerah yang rawan dan daerah aman untuk dijadikan tempat evakuasi bila ada bencana suatu saat nanti.

Gambar 2. Proses pembuatan peta ancaman bencana dan jalur evakuasi secara partisipatif di Desa Kute Panang, Sumber: disasterchannel.co

Canda tawa selalu terselip dalam setiap diskusi dalam pembuatan peta partisipatif. Hingga pada akhir kegiatan, setiap kelompok masyarakat memaparkan hasil diskusinya kepada semua peserta diskusi. Beberapa perdebatan mulai bermunculan dan peta yang sudah dibuat kembali diperbaiki.

Gambar 3. Foto bersama peserta Fokus Grup Diskusi (FGD) di Desa Kute Panang, Sumber: disasterchannel.co

Kesepakatan telah ditetapkan dan kemudian semua sepakat dengan hasil musyawarah dalam beberapa proses. Pengalaman menghadapi bencana harus terus dilestarikan kisahnya, agar di masa depan bila kejadian serupa terulang akan lebih baik penanggulangannya dan warga mampu bangkit lebih cepat, sesuai dengan harapan program ini dilakukan.(LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*