Knowledge Management dalam Kebencanaan yang Terus Digadang

“Knowledge is power. Kalau kita tidak memiiki knowledge mungkin sulit sekali untuk berkembang” ungkap Sinta Kanyawati, Country Director A-PAD Indonesia dalam pembukaan diskusi virtual yang diadakan oleh disasterchannel.co, kemarin (23/12/2021).

Pengetahuan adalah kekuatan dan sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Disasterchannel.co sadar akan pentingnya pengetahuan mengenai kebencanaan yang harusnya bersemayam disetiap pikiran seluruh warga di Indonesia. Pada prosesnya, pengetahuan sangat sulit dan memiliki banyak tantangan untuk bisa sampai pada tahap dimiliki oleh setiap orang. Karena inilah disasterchannel.co berpikir, harus ada manajemen pengetahuan yang baik untuk mewujudkan mimpi ini.

Mimpi besar ini ingin mulai diwujudkan dengan perlahan namun pasti. Salah satunya dengan mengadakan acara diskusi dengan judul ”Pengelolaan Pengetahuan dalam Penanggulangan Bencana Di Indonesia”.

Pemaparan bak sajak yang menghujam pikiran disampaikan oleh Heru Prasetya, Board A-PAD Indonesia. Heru berkata proses membentuk pengelolaan pengetahuan adalah proses yang panjang. Proses ini dimulai dari mencari dan memasukkan data yang benar dan akurat, kemudian merangkainya menjadi informasi yang dapat memunculkan integritas yang tinggi di mata pembacanya.

Dalam membentuk knowledge management, banyak sekali tantangannya terlebih sekarang muncul berbagai macam platform, berbagai macam pengguna yang memiliki selera dan ketertarikan berbeda serta banyak hal lainnya.

“Membuat suatu sistem pengetahuan adalah kerja berat, serius dan kritis, lebih dari sekedar menyampaikan berita. Manajemen pengetahuan adalah tentang meningkatkan penggunaan pengetahuan organisasi memalui praktek menajemen informasi dan pembelajaran organisasi untuk mencapai keunggulan” ungkap Heru.

Selanjutnya Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB menegaskan bahwa posisi saat dimana kita hidup sekarang berada di antara bencana yang sudah terjadi dan harus bersiap untuk bencana yang akan terjadi di masa depan. Karena bencana adalah fenomena yang berulang.

Abdul Muhari menjelaskan bahwa ada bencana yang sifatnya high frequency dan low impact, seperti banjir. Dalam kasus ini, karena keberulangannya yang begitu sering, sehingga masyarakat mampu beradaptasi. Sementara untuk kejadian bencana yang sifatnya low frequency, high impact, seperti gempa, sangat perlu dikembangkan knowledge management mengenai hal ini.

“Ketika terjadi bencana low frequency high impact seperti gempa, maka mereka (masyarakat) tidak akan tahu bahwa bencana itu pernah terjadi 600 tahun lalu. Olehkarena itu, kita harus melakukan knowledge management” ujar Abdul Muhari.

Meiky Sofyansyah, selaku direktur TEMPO melengkapi paparan sebelumnya dan menekankan pada cara bagiamana pengetahuan diolah untuk menjadi kemasan yang dapat diterima bagi banyak orang. Dimulai dari membuat konten sebagai poin yang harus disajikan, menentukan target pembaca sebagai acuan untuk strategi marketing, pengemasan konten di berbagai media, membuat website base yang antraktif.

“Knowledge diolah menjadi kemasan yang acceptable, seperti bagaimana membuat bongkahan puzzle menjadi gambar yang utuh. Semua informasi dikumpulkan satu persatu dan dirangkai” kata Meiky.

Warna lain dalam diskusi hadir pada paparan Mirza Pahlevi dari Benteng Akademi Start-Up. Ia menjelaskan bahwa perlu ada dua bagian, yang mana satu fokus kepada konten dan satu lainnya dapat memperkuat pengelolaan dan pemanfaatan teknologi informasi. Sebab dunia kebencanaan perlu mengikat banyak pembaca.

“Kita bisa menyatukan semua pengetahuan menjadi satu platform, Civil society dapat menjadi leading dalam knowledge management” ujar Mirza

Cerahnya pagi hingga berganti awan membawa hujan besar menyertai diskusi panjang ini. Derasnya hujan tidak mengurangi khusyuknya diskusi. Bersamaan dengan suara turunnya air hujan, dengung suara kesimpulan dibacakan oleh Trinirmala Ningrung, Direktur Yayasan Skala Indonesia yang memoderatori diskusi tersebut.

Diskusi ini menghasilkan kesimpulan bahwa Knowledge management sangat diperlukan bagi negara dengan ancaman bencana yang beragam di berbagai daerah. Karena bencana adalah sebuah fenomena yang berulang. Knowledge management diperlukan terlebih untuk fenomena bencana dengan low frequency, high impact. Kemajuan teknologi memungkinkan bagi kita untuk menyatukan pengetahuan menjadi satu platform yang berisikan data juga cerita mengenai penanggulangan bencana yang ada di Indonesia. Perlu ada inisiasi dan inisiator untuk membuat road map knowledge management di bidang kebencanaan. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*