Rekahan tanah menganga dengan dimensi yang besar masih bisa kita saksikan di Desa Bah, Kec. Ketol, Aceh Tengah. Rekahan ini adalah sisa dari kejadian longsor yang menimbun sebagian Desa Bah sesaat setelah gempa besar mengguncang wilayah ini sepuluh tahun lalu. Sawah, kebun, rumah, bahkan nyawa ikut tertimbun longsoran itu. Gempa bermagnitudo enam itu begitu membekas bagi warga Desa Bah. Bencana itu memaksa mereka berpindah dan menjalani hidup dengan bayangan ancaman gempa dan longsor.
Pagi itu begitu cerah, tebing terjal, deretan perbukitan dan hamparan sawah bersatu menyajikan pemandangan indah yang padu. Namun selalu membawa kami mengingat hal pilu sepuluh tahun lalu. Ingatan masyarakat Desa Bah tentang dahsyatnya gempa selalu terbersit ketika kami melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir Sungai Peusangan. Tepat di sebelah kanan, dapat disaksikan tebing sisa longsor, rumah kosong dan sisa-sisa bangunan yang masih ditempati warga.
Setelah sekitar 10 menit melalui jalan berliku dari jembatan itu, kami sampai di Kampung Mahabbah, itulah nama kampung yang disematkan warga untuk menggantikan kampung lama mereka. Di sana mulai terlihat aktivitas warga yang hilir mudik berkendara membawa bibit cabai untuk ditanam di kebun. Ada pula yang berjalan kaki membawa tas karung untuk memanen kopi atau hasil bumi lainnya.
Kantor desa menjadi tempat kami saling melempar senyum dan berbincang mengenai bencana. Pagi itu, Rabu 13/07/2023 kami kembali berkumpul bersama warga untuk melanjutkan rangkaian program “Develop Community Led on Disaster Risk Management”. Program ini merupakan inisiasi Yayasan Skala Indonesia yang didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk.
Berbeda dari pertemuan sebelumnya, kali ini kami datang untuk memfasilitasi warga Desa Bah dalam membuat rencana kontinjensi gempabumi. Kami menjalin dialog dan diskusi mengenai bencana, siklus bencana dan juga risiko bencana di desa ini. kemudian kami menjelaskan apa itu rencana kontingensi dan juga prinsip serta bagaimana cara membuatnya.

Ingatan kental mereka tentang bencana gempa memudahkan proses pembuatan rencana kontingensi. Sebab warga dengan mudah mampu membayangkan skenario kejadian bila gempa terjadi serta dapat pula membayangkan dampaknya. Berbekal kedua hal ini, warga dapat merencanakan perihal tindakan yang harus dilakukan dalam penanggulangan pada saat fase tanggap darurat bencana gempa.

Keesokan harinya, pada 14/07/2023 kami melanjutkan proses pembuatan rencana kontingensi dengan membuat struktur pos komando tanggap darurat bencana. Para perwakilan masyarakat yang hadir kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memetakan sumber daya manusia dan juga peralatan yang dimiliki oleh desa. Hal ini dilakukan untuk dapat memudahkan penanganan tanggap darurat bencana bila bencana itu terjadi. Sehingga masyarakat dapat menggunakan sumberdaya yang ada dengan maksimal.

Di hari terakhir, Jumat 15/07/2023 seluruh peserta kembali berdiskusi dan menyepakati tugas pokok dan fungsi masing-masing dari struktur komando tanggap darurat bencana Desa Bah yang sudah dibuat. Disertai canda tawa di sela-sela pembahasaan serius membuat diskusi berjalan begitu mengasyikkan. Diskusi dilanjutkan dengan membahas alur pengaktifan pos komando tanggap darurat. Alur ini dibuat untuk memudahkan pemahaman warga mengenai alur komunikasi, koordinasi dan pelaksanaan operasi tanggap darurat.

Setelah semua rangkaian diskusi selesai, seluruh peserta mempraktekkan apa yang telah dibuat dan dipelajari dengan melakukan latihan table top exercise, atau Latihan penanggulangan bencana di dalam ruangan. Semua mempraktekkan alur pengaktifan pos komando tanggap darurat bencana mulai dari memperoleh informasi kejadian awal bencana, membuat tim reaksi cepat, melakukan assessment atau penilaian kondisi wilayah terdampak dan mempraktekkan setiap fungsi dari klaster yang telah dibuat.
Rita Mahbengi salah satu peserta dari perwakilan pemuda mengucapkan terima kasih kepada kami sekaligus berkata “melalui kegiatan ini, kami jadi tau cara penanggulangan bencana saat tanggap darurat berlangsung, jadi tidak bingung lagi”.
Jejak bencana yang begitu jelas di Desa Bah, membuat memori masyarakat akan bencana gempa masih terjadi. Memori dari pengalaman menghadapi bencana begitu berharga bila dimanfaatkan dengan baik. Melalui memori kolektif masyarakat dalam menghadapi bencana dapat menjadi landasan kita untuk mengambil keputusan baik dalam pengurangan risiko bencana. (LS)






