Memori Bencana Gempa di Desa Serempah Menjadi Kunci Tindak Mitigasi

Semua warga Desa Serempah yang menyaksikan dahsyatnya gempa disertai longsor pada 2 Juli 2013 tidak pernah lupa mengenai memori kelam itu. Semua warga desa harus mengungsi cukup jauh dari area pemukiman mereka. Area pemukiman sebelumnya dinilai tidak aman lagi untuk ditinggali memaksa mereka menjalankan relokasi. Terjerat permasalahan akses penghidupan berupa kebun dan lahan pertanian, membuat warga serempah berpindah sebanyak dua kali setelah gempa terjadi.

Dampak parah yang dialami Desa Serempah karena bencana gempa 2013 menjadi salah satu alasan kami untuk melakukan program pengurangan risiko bencana di wilayah ini. Pagi itu, Senin 17/07/2023 kami kembali menyambangi Desa Serempah untuk melanjutkan rangkaian program “Develop Community Led on Disaster Risk Management”. Program ini merupakan inisiasi Yayasan Skala Indonesia yang didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk.

Gambar 1. Foto bersama seluruh peserta pembuatan rencana kontinjensi gempabumi di Desa Serempah

Dari kejauhan, kabut tebal terlihat menutup wilayah Desa Serempah dari kejauhan. Rintik gerimis membuat pola pada kaca mobil yang kami tunggangi sepanjang jalan menuju desa. Cuaca dingin dan berkabut tidak menyurutkan niat warga untuk berbincang mengenai bencana bersama kami.

Semangat warga Desa Serempah yang datang di kantor kepala desa menjadi bara penghangat untuk menghalau dinginnya angin yang menghembus dari segala lini ruang ini. Kegiatan dimulai dengan sambutan Reje atau Kepala Desa Serempah kemudian dilanjutkan dengan ice breaking pemecah kekakuan forum. 

Pelaksanaan program pada kali ini berfokus pada pembuatan rencana kontinjensi gempabumi. Pada hari pertama, kami menyampaikan berbagai materi mengenai konsep dasar bencana, sejarah gempa di wilayah Aceh Tengah hingga ancaman bencana gempa yang ada di wilayah ini. hal ini dilakukan agar memudahkan masyarakat memahami proses pembuatan rencana kontingensi yang akan dilakukan keesokan harinya.

Gambar 2. Proses diskusi dalam pembuatan rencana kontinjensi gempabumi di Desa Serempah

Hari selanjutnya, pada Selasa 18/07/2023 kami kembali melanjutkan proses pembuatan rencana kontingensi. Kami mulai menyampaikan apa itu rencana kontinjensi, maksud dan tujuan hingga prinsip pembuatannya. Setelah itu kami menjalin diskusi untuk membuat skenario kejadian bencana serta asumsi dampak yang akan terjadi. Berbekal memori mengenai pengalaman menghadapi bencana gempa pada tahun 2013 menjadi sebuah katalis membangkitkan membuka pemahaman terkait pentingnya membuat rencana kontingensi dan memperkirakan kondisi dan dampak bencana gempa bila kejadian itu berulang di masa depan. 

Proses selanjutnya tak kalah menarik, sebab warga dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memetakan sumber daya manusia dan juga peralatan yang dapat dimanfaatkan ketika tanggap darurat berlangsung. Sahut-sahutan suara antar kelompok seolah menghidupkan ruangan yang sudah lama tak difungsikan secara maksimal sebagai kantor kepala desa. Semua tahapan berjalan dengan baik walau mengalami beberapa kendala.

Hasil pemetaan sumber daya yang sudah dilakukan kami manfaatkan bersama untuk membentuk struktur pos komando tanggap darurat bencana gempabumi di Desa Serempah. Seluruh peserta mulai bersuara mengeluarkan pendapatnya untuk mengisi struktur ini. Berbagai perdebatan kecil mewarnai diskusi yang semakin lama semakin membara.

Gambar 3. Proses pelaksanaan table top exercise di Desa Serempah

Pada hari terakhir, Rabu, 19/07/2023 adalah hari dimana seluruh peserta bersama-sama menyepakati struktur pos komando tanggap darurat dan kemudian membuat alur kerja serta menyepakati tugas pokok dan fungsi dari masing-masing struktur yang ada. 

Setelah semua mengerti tugas masing-masing ketika bencana terjadi, maka kami melanjutkan proses selanjutnya untuk melakukan table top exercise atau pelatihan di atas meja mengenai pengaktifan pos komando tanggap darurat. Proses dimulai ketika berita skenario kejadian bencana gempa dibacakan. Seluruh peserta belajar bagaimana menjalankan tugasnya ketika tanggap darurat terjadi, mulai dari mendapatkan informasi kejadian, membentuk tim kaji cepat dan melakukan pendataan kondisi terdampak atau assessment dan kemudian mengaktifkan posko.

Pengalaman menghadapi bencana gempa pada 2 Juli 2013 membuat warga Desa Serempah memiliki memori tajam mengenai bencana yang terjadi. Memori ini seolah menjadi kunci dari sebuah pintu untuk memutuskan tindak mitigasi. Melalui memori kejadian bencana sebelumnya, memudahkan masyarakat untuk merefleksikan diri dan membayangkan potensi bencana dan juga dampak yang akan mereka alami. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*