Ini yang diingat Desa Serempah Tentang Gempa Gayo 2013

skalaindonesia.org – Pertama kali menginjakkan kaki di Desa Serempah terasa begitu istimewa. Sebab pemandangan indah selalu menyertai perjalanan ini, dari mulai indahnya bukit-bukit yang berbaris berselimut pohon kopi, hingga pemandangan kebun durian dengan harum semerbak yang menggelitik hidung kala lewat. 

Perjalanan menuju Desa Serempah memiliki makna tersendiri. Kami mengunjungi desa ini, sebab sepuluh tahun lalu Desa Serempah mengalami dampak paling parah dari gempa yang terjadi pada 2 Juni 2013. Pertemuan dengan aparat desa bersambut baik, hingga pada akhirnya kami dapat menjalankan program “Develop Community Led for Disaster Management” program ini adalah inisiasi dari Yayasan Skala Indonesia dan didukung oleh PT. Mandala Multifinance Tbk.

Program ini dimulai dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada Jumat, 3 Maret 2023. Gempa sepuluh tahun lalu begitu berbekas bagi warga di Tanah Gayo. Sebab dampak keseluruhan dari gempa ini menyebabkan 39 orang meninggal, lebih dari 400 orang luka. Banyak di antara korban yang terdata berasal dari Desa Serempah.

Dalam diskusi, beberapa warga menyampaikan ingatan kolektifnya mengenai gempa besar yang mereka alami di tahun 2013. Salah satunya adalah Saitri, seorang perempuan paruh baya yang saat kejadian gempa sedang hamil besar.

“Kejadian gempa terjadi pada jam 3 sore, ketika saya sedang dalam rumah tiba-tiba gempabumi dan saya terbawa longsor dengan kondisi tidak sadarkan diri. Saya diselamatkan tetangga, kemudian saya bertemu dengan suami yang saat itu baru pulang setelah ia bekerja” ujar Saitri.

Gambar 1. Muhammad (mantan Reje Desa Serempah tahun 2013) menceritakan ingatan kolektif mengenai gempa yang pernah terjadi di Desa Serempah (sumber: disasterchannel.co)

Cerita dilanjutkan oleh Muhammad, mantan Reje (kepala desa yang menjabat kala kejadian gempa), ia bercerita mengenai kronologi kejadian gempa dengan detail.

“Menurut riwayat orang tua gempa pernah terjadi pada tahun 1965 pada zaman PKI. Namun, gempa tahun 2013 terangkat sedangkan 1965 bergesek. Jam 2.15 saya lelah sehabis membuat kandang ayam dan tidur, anak dan istri saya tidak ada dalam rumah. Tidak lama, gempa terjadi, saya tidak bisa terbangun dan saya terbawa dengan gerakan rumah yang terkena longsor. Saya berusaha menyelamatkan diri hingga (bisa) keluar dari rumah, dan akhirnya rumah saya tertimbun” ujar mantan Reje.

Gambar 2. Kepala Desa Serempah sedang menjelaskan hasil diskusi pembuatan peta jalur evakuasi secara partisipatif (sumber: disasterchannel.co)

Cerita disambung dengan Kepala Desa Serempah pada saat ini yang Bernama Muhammad Arif.

“Ketika kejadian gempa saya sedang dirumah, saya melihat gelondongan kayu yang meluncur. Setelah itu, tiba-tiba kampung bergemuruh, disertai goncangan gempa. Saya melihat beberapa warga yang tertanam, dan meninggal dalam tanah” kata Muhammad

Proses evakuasi kala sesaat setelah gempa dilakukan oleh beberapa orang warga desa yang selamat, termasuk di antaranya Reje dan mantan Reje sebelumnya.

“Setelah gempa, saya melihat beberapa anak bagian tubuhnya tertanam setengah badan. Ada pula ibu-ibu yang meninggal karena tertimbun longsor. Saya menolong warga yang tertanam dan meninggal saya tolong bawa ketempat yang aman” ujar Muhammad.

Sehari setelahnya bantuan banyak berdatangan dan seluruh warga selamat mulai mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman. Banyak yang mengungsi ke desa tetangga yaitu Desa Kute Gelime. Karena area Desa Serempah sebelumnya sudah hancur porak-poranda karena gempa dan longsor, maka desa ini direlokasi. 

Setelah lama mengungsi di Desa Kute Gelime, beberapa bulan setelahnya, warga desa ini kembali berpindah ke samping Desa Bah Bernama kampung Kute Alam. Wilayah Kute alam merupakan bagian administratif dari Desa Serempah. Melalui musyawarah panjang dan pengalaman hidup selama relokasi berlangsung, warga Desa Serempah mendesak pemerintah setempat untuk pindah dari Kute Alam ke tempat dimana Desa Serempah berdiri saat ini. Alasan utama yang menjadi latar belakang warga desa ini terus berpindah adalah alasan ekonomi berupa jarak yang cukup jauh antara ladang.

Gambar 3. Foto bersama selesai FGD bersama seluruh peserta di Desa Serempah (sumber: disasterchannel.co)

Diskusi dilanjutkan dengan pembuatan peta ancaman bencana dan juga peta jalur evakuasi yang dilakukan secara partisipatif. Warga sangat antusias berdiskusi dan menentukan wilayah aman dan rawan bencana berdasarkan pengalaman hidup mereka selama ini. 

Adzan Dzuhur menjadi tanda diskusi ini disudahi. Masyarakat Desa Serempah berterima kasih dengan kehadiran tim ini, semua berbaris rapi untuk sama-sama tersenyum menghadap kamera untuk mengabadikan momen langka kali ini. Sesi diskusi pertama adalah sebuah permulaan untuk melanjutkan program kedepannya dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di daerah yang paling berisiko. (LS)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*